Samudra di Balik Menara
Silakan benci aku sedalam yang kamu mampu, bangunlah menara narasi tentang keburukanku hingga menyentuh langit. Aku tidak akan meruntuhkannya, karena aku terlalu sibuk menata taman di dalam jiwaku sendiri. Aku sudah lama berhenti mencari validasi di mata orang-orang yang memang sudah menutup pintu hatinya sejak awal. Ketahuilah, hidupku bukanlah sebuah kompetisi untuk menjadi yang paling disukai, melainkan sebuah perjalanan untuk menjadi yang paling jujur pada diri sendiri. Jika kejujuranku mengusik kenyamananmu, itu bukan karena aku yang salah melangkah, tapi mungkin karena kamu yang terlalu lama berdiri di tempat yang gelap. Aku adalah kumpulan dari doa-doa ibu yang terjaga, usaha-usaha yang berdarah dalam sunyi, dan kegagalan yang berhasil kuubah menjadi kebijaksanaan. Semua itu terlalu berharga untuk hancur hanya karena satu-dua kalimat kebencianmu. Teruslah bercerita tentangku sesukamu. Jadikan aku tokoh antagonis dalam duniamu jika itu memang bisa menambal rasa sepi atau keg...